Selasa, 05 Desember 2017
My Favorit Strory
“Bidadariku”
Dia adalah gadis
19 tahun, dia sangat suka menulis. Rambutnya yang hitam sebahu dan lesung di
pipinya menambah hiasan cantik diwajahnya. Dia menjadi salah satu mahasiswa
disalah satu Universitas di kota tempatnya tinggal. Beradaptasi dengan dunia
dan teman baru agaknya membuat gadis yang akrap di panggil Berlian itu
kesulitan, dia harus meninggalkan teman-teman SMA nya. Sosoknya yang pendiam
suka menyenderi menjadi sulit berkomunikasi dengan orang-orang baru. Agaknya
waktu berlalu dengan sendirinya hingga dua tahun berjalan dia mulai nyaman
dengan suasana baru di kampusnya yang bernuansa putih-putih.
Suatu sore yang
redup ditengah keramaian kota, Berlian berjalan diantara gemerlapnya kota. Dia
selalu mencari susana tenang dalam segala masalah-masalahnya. Hening membuat
pikirannya kembali normal. Dia berjalan di pinggiran taman, bunganya yang sudah
tak lagi mekar menandakan sore akan segera berganti dengan malam. Dia
menghentikan langkahnya tepat didepan sebuah bangku panjang berwarna hitam. Berlahan
dia mendaratkan tubuhnya di kursi hitam terebut. Tangan kecilnya merogoh isi
tas yang dibawa di samping bahunya, dikeluarkannya sebuah buku berwarna merah
dengan hiasan bunga mawar di sampulnya. Berlahan ia menorehkan pena yang sudah
dari tadi menunggunya, ia menulis semua yang ia rasakan. Sebuah penat yang
menyumbat jalan pikirannya. Kata demi katapun ia tulis, kini bertambah lembar
baru di buku kesayangannya itu, buku yang
selalu ikut kemanapun ia pergi menjadi sahabat setianya.
Sang surya mulai
tenggelam dan menghilang. Kini sinar bulan dan lampu taman disamping yang
menemaninya. Headset yang sedaritadi di telinganya, ponsel yang terus memutar
lagu-lagu kesukaanya tiba-tiba terhenti. Sebuah panggilan masuk dari sesorang
pria. Berlian tak menyentuhnya sama sekali ia hanya memandangi ponselnya yang
dari tadi berdering. Hingga 20 kali panggilan tak terjawab tertulis di ponsel
putihnya itu. Ponselnya terhenti seketika, lagupun mulai memutar kembali hingga
10 menit kemudian seorang laki-laki dengan seragam kebangganya berjalan
kearahnya, tepat di depannya dan menarik headset ditelingganya.
“kenapa kamu
sama sekali tidak menganggat panggilan dariku?,” Berlian hanya menatap
laki-laki tersebut.
Pria tersebut
memegang tangan Berlian dan menariknya “Ada apa denganmu put?” Hanya satu dari
kesekian orang yang memanggilnya Putri.
“Aku
capek put, aku lelah harusnya kamu menyambutku ketika aku pulang seperti ini,
kenapa kamu marah, apa salahku? Kamu harusnya mengerti akan keadaan dan
posisiku. Bukannya seperti ini terus!”
Dengan
mata berbinar-binar Berlian menjawab “Apa kamu mengerti apa yang aku rasakan?
Apa kamu mengerti keadaanku sekarang?
Posisiku apa kamu mencoba mencari tahu? Kamu hanya mementingkan dirimu
sendiri Dimas, kamu hanya mementingkan pekerjaan dan karirmu itu!”
Berlian
membereskan buku dan memasukan ponselnya kedalam tas lalu melangkah
meninggalkan Dimas yang terdiam di sampingnya.
Hubungan
jarak jauh mereka lakukan selama lebih dari dua tahun, restu dari kedua orang
tua sudah mereka dapatkan. Konflik yang akhir-akhir ini menggangu hubungannya
terus berdatangan, sudah satu minggu mereka bertengkar dan tidak ada
komunikasi. Dimas Anggoro ia seorang TNI Angkatan Laut dia ditugaskan di
Jakarta dan hanya satu bulan sekali ia pulang untuk mengungjungi keluarga dan
kekasihnya itu. Memang jarak rumah dan tugasnya tidak jauh tapi Dimas hanya
diperbolehkan pulang sebulan sekali. Berlian Anggita Putri ia seorang mahasiswa
Kedokteran semester 4 ia tinggal di Bandung begitupun Dimas. Mereka
dipertemukan oleh temannya yang tidak sengaja mejodohkan keduanya, hingga
timbul kecocokan satu sama lain dan memutuskan untuk menjalin suatu hubungan.
Pagi
yang berawan, sang surya yang sudah mulai meninggi menyilaukan wajah cantik
Berlian yang masih nyenyaknya tertidur hingga tak terasa Berlian tidur terlalu
lama dan lupa bahwa hari ini ia ada kuliah pagi. Alarm berdering Berlianpun
segera berbebas bangun dan pergi kekamar mandi. Seperti biasa Berlian mengenkan
setelan rok jas putih dan menggerai rambutnya yang hitam. Buku-buku, ponsel dan
tak lupa buku kesayangannya ia masukan ke dalam tas. Berlian segera turun
kebawah untuk sarapan. Sosok perempuan cantik sudah menunggunya dimeja makan,
tak lain ia adalah wanita perkasa Berlian
“Good
Morning cantik”
“Morning
ma....” Sembari menarik kursi di hadapanya
Mamanya
yang selalu meyiapkan sarapanya setiap pagi. Yang dari tadi sudah menunggu
putri semata wayangnya keluar
“Mama
liat tadi malam kamu larut sekali baru pulang”
Berlian
terdiam sambil menggoleksan selai di rotiya “Ada tugas tambahn ma dari dosen,
jadi harus lembur”
“Beneran?
Kamu sedang tidak ada masalah kan sama Dimas?”
Pertanyaan
yang agaknya males untuk ia jawab, Berlian segera bangkit dari tempat duduknya
“Berlian
berangkat dulu ma, udah telat” mencium tangan mamanya dan pergi dengan sepotong
roti yang belum sempat ia makan.
Baru
selangkah ia keluar pintu Dimas sudah berada di depan pagar rumahnya. Menunggunya
dari tadi, ia berdiri tepat di depan mobil sedan hitam menggenakan seragam dinas
warna biru dan rangsel di sebelahnya seperti akan pergi jauh. Berlian terus berjalan
tanpa melihat kearah Dimas.
“Kamu
masih marah denganku?”
Pertanyaan
singkat Dimas mengentikan langkah Berlian. Berlian tanpa berkata apapun
melanjutkan langkahnya lagi. Higga jarak lima meter Dimas mengencangkan suranya
“Aku
akan pergi jauh, aku kesini ingin berpamitan denganmu”
Berlian
menghentikan langkahnya lagi tanpa menoleh kebelakang dan tetap diam
“Aku
ditugaskan di perairan Papua selama dua tahun aku harap kamu bisa menjaga
dirimu selama aku tidak ada disampingmu, dua jam lagi aku segera berangkat. Aku
kesini hanya ingin melihat wajahmu. Aku
tau kamu masih marah tapi maaf aku tidak bisa menemanimu untuk kali ini
dan dua tahun mendatang. Beginilah tugasku mungkin kamu harus beradaptasi
dengan semua ini, aku tidak seperti dulu yang bisa menemanimu setiap saat.
Tunggu aku dan Jaga kesehatanmu, aku berangkat”
Dimas
membuka pintu mobilnya dan segera meninggalkan Berlian. Air mata yang sedari
tadi sudah membasahi pipinya, kini tak hentinya menetes. Berlian sangat mencintai Dimas lebih dari ia mecintai
dirinya sendiri. Dulu mereka sering jalan, makan, nonton hingga tak ada hari
tanpa ada Dimas di sampingnya. Sekarang keadaan berubah Berlian harus
membiasakan tanpa Dimas dengan profesinya sebagai abdi negara, ini semua
membutnya terpukul hingga sekarang ia belum bisa menerima keadaan ini.
Satu
tahun setengah sudah Dimas bertugas. Berlian yang sedang sibuk-sibuknya menyiapkan materi untuk
bahan skripsinya, sampai ia tidak pernah mengurusi badanya lagi ia hanya berada
di kampus pulang tidur lalu kembali lagi. Hingga lupa bahwa hari ini adalah
Ulang Tahun Dimas. Berlian yang sudah berada di pekarangan rumahnya akan segera
berngkat. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh seorang pria yang memanggilnya
“Nona
Berlian ya? Ini ada surat untuk Nona dari Dimas Anggoro”
Berlian
yang mendengar nama Dimas segera mengambil surat terebut. Tapi Berlian ingat
kalo Dimas tidak pernah mengiriminya surat. Hanya ada satu kemungkinan Dimas
mengirim surat, dengan mata berkaca-kaca Berlian segera membuka amplop berwarna
putih tesebut dan membaca sisinya
“Hai Putri malaikat tanpa
sayapku. Aku sangat merindukanmu, kamu harus selalu menjaga kesehatanmu cantik
! Kamu pasti sudah tau kan kenapa sekarang ada surat ditanganmu.
Maaf, aku tidak bisa menepati semua janjiku. Aku tidak bisa menemanimu lagi. Menemanimu jalan, makan, nonton bareng. Aku sangat senang bisa mengenal sosok bidadari sepertimu. Bidadari cantik yang selalu mengisi hari-hariku. Kemaren ternyata pertemuan kita yang terakhir, aku sangat senang bisa melihat wajah bidadariku dipagi hari seorang malaikat cantik yang diberikan Tuhan untukku.
Kamu sudah terbiasa tanpa aku bukan? Aku kira kamu tidak akan sedih ketika aku pergi . Jangan pernah netesin air mata untuk laki-laki sepertiku. Aku belum bisa membuatmu bahagia, bahkan ketika pertemuan terakhirpun, aku masih membatmu sedih. Aku tidak ingin melihat bidadriku sedih lagi. Bidadariku yang aku kenal sangat ceria. Aku berencana melamar bidadariku ini ketika aku pulang, tapi ternyata Tuhan berenana lain. Kado ini jangan lupa taruh di jari manismu supaya kamu bisa mengingatku terus.
Maaf, aku tidak bisa menepati semua janjiku. Aku tidak bisa menemanimu lagi. Menemanimu jalan, makan, nonton bareng. Aku sangat senang bisa mengenal sosok bidadari sepertimu. Bidadari cantik yang selalu mengisi hari-hariku. Kemaren ternyata pertemuan kita yang terakhir, aku sangat senang bisa melihat wajah bidadariku dipagi hari seorang malaikat cantik yang diberikan Tuhan untukku.
Kamu sudah terbiasa tanpa aku bukan? Aku kira kamu tidak akan sedih ketika aku pergi . Jangan pernah netesin air mata untuk laki-laki sepertiku. Aku belum bisa membuatmu bahagia, bahkan ketika pertemuan terakhirpun, aku masih membatmu sedih. Aku tidak ingin melihat bidadriku sedih lagi. Bidadariku yang aku kenal sangat ceria. Aku berencana melamar bidadariku ini ketika aku pulang, tapi ternyata Tuhan berenana lain. Kado ini jangan lupa taruh di jari manismu supaya kamu bisa mengingatku terus.
Putri
jaga kesehatan, aku sangat mencintaimu
bidadari cantikku, dokter gigiku semangat terus baik-baik aku selalu ada
disampingmu cantik!”
Wajah
Berlian sudah dibasahi air mata yang sedaritadi terus mengalir tanpa henti.
Tubuh Berlian lemas ia tidak bisa berdiri lagi Berlian jatuh tepat di sebelah
mobilnya, ia menangis tanpa hentinya. Ia tidak bisa mempercayai apa yang
barusan dibacanya. Seseorang yang ia cintai ia tunggu kehadirannya kini pulang
dengan nama. Sosok yang menjadi semangatnya selalu membuatnya tertawa pergi
tanpa meliahatnya untuk terakhir kalinya. Tidak ada semangat lagi untuk Berlian
tidak ada semangat lagi untuknya hidup.
Satu
bulan setelah kematian Dimas, Berlian terus menjadi sosok yang pendiam, ia rutin
mengunjungi makam Dimas membawakan bunga mawar merah. Ia tak lupa selalu
memakai cincin pemberian Dimas.
Satu
tahun berlalu, Berlian akhirnya menyelesaikan kuliahnya dan melakukan
wisuda. Dia menjadi seorang dokter gigi
seperti keinginan Dimas. Setelah selesai wisuda Berlian pergi kemakam Dimas
menunjukkan apa yang dia inginkan tercapai, menjadi dokter giginya. Kini
Berlian melanjutkan S2 di Amerika dan memulai kehidupan baru.
Like and coment 😇😇😊
Langganan:
Postingan (Atom)

















